Ignition 1000 Startup Digital Yogyakarta Yang Menggelora


Saya adalah Muhammad Wafa yang merupakan salah satu peserta dalam Ignition 1000 Startup Digital di Yogyakarta. Saya baru mengetik artikel ini karena sebelumnya laptop saya mengalami kerusakan dan memerlukan beberapa waktu untuk memperbaikinya. Sehingga, setelah beberapa hari kemudian saya baru bisa mengetik artikel ini. Terlepas dari itu semua, yang akan saya ceritakan dalam artikel ini adalah pola pikir saya setelah saya mengikuti kegiatan Ignition 1000 Startup Digital di Yogyakarta.

Saat saya mengikuti kegiatan Ignition 1000 Startup Digital di Yogyakarta (tepatnya di Grha Sabha Pramana lt.1), saya mendapatkan banyak sekali ilmu yang dapat saya pelajari dan nantinya akan sangat berguna untuk dapat mengembangkan startup yang akan saya bangun nantinya. Banyak sekali pembicara yang membuat saya terinspirasi dengan segala kelebihannya masing-masing. Pembicara itu antara lain adalah Bapak Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika RI), A. Noor Arief (Dirut Dagadu), M. Ghufron Mustaqim (VP of Operation Salestock), Nendra Rengganis (Head of Operations Hipwee), Seto Lareno (Head of People Partner for Technology Division GO-JEK), Andreas A. Swasti (Chief Information Officer Nebengers), Affi Khresna (Head of Idea Labs Srengenge), Kristupa W. Saragih (Founder forografer.net), Afit Husni Karim (Co-Founder & CFO Ngonoo), dan Puthut EA (Founder Mojok.co).

Para pembicara menjelaskan tentang berbagai hal mengenai startup. Hal yang menarik adalah mereka berpikir tentang bagaimana memecahkan masalah, bukan bagaimana mendapatkan uang dari startup tersebut. Bagi mereka uang adalah bonus dari kerja yang mereka lakukan dalam memecahkan masalah. Sebagai contoh bermula dari masalah transportasi di kota besar yang macet, kendaraan yang cukup bisa melewati kemacetan itu adalah sepeda motor, sedangkan transportasi umum yang sering digunakan adalah ojek untuk bisa melewati macet tersebut. Sehingga pemecahan masalahnya adalah dengan mempertemukan antara tukang ojek dan pelanggannya. Maka dibuatlah aplikasi yang sekarang kita kenal dengan GO-JEK. Setelah itu berhasil, maka barulah mulai mendapatkan uang dari bagi hasil antara tukang ojek tersebut dengan pihak startup yang dibangun.

Selain berpikir tentang memecahkan masalah, banyak sekali pola pikir baru yang saya dapatkan tentang bagaimana membangun startup dan mengembangkannya sehingga menjadi startup yang besar. Selain fokus pada penyelesaian masalah, dalam membangun startup kita harus mengetahui apa yang di butuhkan masyarakat. Jika mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka masyarakatlah yang akan datang sebagai pelanggan dari startup yang akan dibangun tanpa ada paksaan atau memerlukan promosi yang memakan biaya yang mahal. Dengan begitu kita bisa menghemat biaya promosi dan membuat produk yang akan ditawarkan diterima oleh masyarakat dengan baik. Selain itu, jika produk yang ditawarkan bukan merupakan kebutuhan, maka hal itu akan percuma saja karena masyarakat tidak akan tertarik meskipun itu hal baru sekalipun.

Selanjutnya saat membangun startup sangat diperlukan kesabaran. Dalam membangun startup terkadang banyak sekali hal yang menghalangi dan terkadang membuat kita hampir menyerah. Tetapi, dengan kesabaran dan ketekunan kita harus bisa menghadapi dan mengatasi halangan yang ada. Kita juga harus bisa mempelajari dari setiap kegagalan yang dialami agar tidak terulang kesalahan yang sama.

Dengan mengikuti Ignition 1000 Startup Digital di Yogyakarta, kini pemikiran saya semakin luas. Saya mulai bisa berfikir bagaimana startup yang akan saya bangun kedepannya dan startup apa yang mestinya saya bangun.
Lebih baru Lebih lama